Jam

Jumat, 13 September 2013

dulu aku adalah pujangga.

seorang arwah pujangga tersasar masuk
kedalam tubuh mungilku.
dulu aku berkata-kata bak mutiara nan wangi.
dan, mutiara sangatlah aneh ditengah batu kali.
pikiranku bagai seribu persimpangan
dalam sekotak korek api.
karena itulah aku anomali.
sudah kumenangkan taruhan ini,
bahkan dengan amat adil.
jauh sebelum kau menyerahkan kertas dan pensil.
karena rinduku menetes sebanyak tetes gerimis.
tidak butuh kertas,
atau goresan garis.
genggamlah jantungku dan hitung denyutannya.
sebanyak itulah aku merindukanmu.
karena ini dinamakan si jantung hati.
memompa lembut seperti angin memijat langit.
berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
dan, darah cinta adalah udara.
dengan roh, rindu yang menumpang lewat didada.

0 komentar:

Posting Komentar