COPADA_IPA 2

Grup IPA 2 MAN REJOTANGAN / MAN 3 Tulungagung

COPADA_IPA 2

Dibentuk pada Tahun 2012

COPADA_IPA 2

Dibentuk di Sebuah Ruangan "The Litle Box to get Success"

COPADA_IPA 2

Terdiri Dari 31 Anak, 6 Laki-Laki

COPADA_IPA 2

31 Anak, 25 Perempuan

Jam

Selasa, 05 November 2013

BAHASA
apa yang anda ketahui tentang bahasa?
apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar istilah bahasa?
seberapa pentingkah bahasa menurut anda?
lalu mengapa anda harus berbahasa?
entah mengapa pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benakku, kenapa aku harus berbahasa? apa pentingnya bahasa?
tapi, setelah difikir-fikir aku sekarang faham. kenapa bahasa itu penting buat kita. ada sebuah ungkapan peribahasa "bahasa menunjukkan bangsa" yang tidak hanya merujuk pada suatu komunitas yang disebut bangsa, tetapi juga individu-individu dari suatu komunitas tersebut. corak dan warna bangsa ditentukan oleh corak dan karakter individu anggota komunitas yang disebut bangsa. dengan demikian maka, secara timbal balik, bahasa yang digunakan menjadi penanda khas karakter individu dan peradaban bangsa yang bersangkutan.
bahasa adalah anugrah Tuhan yang hanya melekat pada manusia. binatang tidak memiliki kemampuan berkomunikasi sekreatif dan sedinamis bahasa. alat komunikasi antar binatang sangat terbatas dan tidak berkembang sehingga peradaban hewani itu berkembang secara statis alias begitu-begitu saja sejak nabi Adam hingga adam akhir zaman. apakah kalian sependapat dengan argumen ini?
kita sebagai manusia harusnya mensyukuri kemampuan kita berbahasa dengan memelihara bahasa yang baik (berkaitan dengan kaidah bahasa dan kesatuan) dan benar (efektif, efesien, dan logis). pemeliharaan bahasa yang benar dan baik iniakan meningkatkan citra diri yang baik, yang pada tahap selajutnya akan mengiringi keberhasilan kita dalam provesi dan jabatan di masyarakat. jadi, berbahasa yang baik dan benar merupakan kebutuhan setiap individu yang berbudaya.
kita dapat melacak hubungan antara bahasa dan berpikir dengan mudah, cobalah dengan mencoba memikirkan sesuatu tanpa menggunakan bahsa. tentu tidak bisa kita melakukannya. kita melihat jelas seseorang yang berpikiran kacau mengakibatkan bahasanya kacau juga. kadang juga jika seseorang memikirkan sesuatu yang berat, yang bersangkutan tidak selera untuk berbicara. ada juga yang berpendapat bahwa bahasa menupakan cermin pikiran, apa yang dibicarakan adalah apa yang dipikirkan. bahasa terbentuk dari pikiran, atau bentuk bahasa (secara individual dan spontan) meniru atau mengikuti bentuk pikiran atau ide. akan tetapi, jika kita mau lebih jeli melihat, sesungguhnya bahasa itu hanyalah "wujud" dari ide atau pikiran saja. sehingga analisis bahasa dengan melepaskannya dari analisis ide adalah kesesatan. artinya, tidak mungkin ada bahasa tanpa ada ide, begitu pula sebaliknya. ide atau isi dari wujud bahasa yang akan-sedang-telah dikomunikasikan dalam berbagai tujuan dan fungsi menjadi terpisah, semacam air yang tersusun dari hidrogen dan oksigen.
itulah bahasa.

Senin, 04 November 2013

Malam Sobat... disela-sela ane nunggu download game yang 2 GB itu, ane mau upload beberapa foto atau gambar lucu lah. lumayan bisa untuk hiburan atau diupload sebagai selingan komentar sobat di facebook... ok langsung aja. selamat menikmati.....






































Sabtu, 26 Oktober 2013

sore sobat.,.
ini aku ada sedikit cerita buat kalian,. ini adalah salah satu dari macam cerita panji,.
pastinya kalian tahu apa itu cerita panji,
cerita panji adalah kesusastraan lama yang berasal dari jawa, cerita ini muncul di akhir zaman majapahit, dan bahasa yang digunakan dalam cerita panji ini adalah bahasa jawa tengahan.
nah untuk lebih jelasnya apa itu cerita panji, coba baca dan simak baik-baik cerita yang berjudul " Dewi Sekartaji dan Jaka Kembang Kuning" ini, selamat membaca...


DEWI SEKARTAJI DAN JOKO KEMBANG KUNING

Di pendapa keraton Kediri, Prabu Lembu Amijaya berkeluh kesah karena putrinya Dewi Sekartaji meninggalkannya. Raja mengumumkan bahwa barangsiapa berhasil menemukan putri itu, akan dinikahkan dengannya. Jaka Kembang Kuning (Panji Asmara Bangun) dari Jenggala berangkat untuk mencari Dewi Sekartaji, begitu pula halnya dengan Prabu Klana Gendingpita dari kerajaan asing. Setelah Jaka Kembang Kuning mengalami pertikaian dengan sejumlah ksatria serta perjumpaan Dewi Sekartaji dengan salah seorang mentri kerajaan, secara kebetulan keduanya bertemu dipasar, dimana Jaka Kembang Kuning menyamar menjadi pemusik.

Di kerajaan Kediri Prabu Brawijaya sedang mengadakan pertemuan dengan para punggawa kerajaan, masing-masing patih Tandamantri Arya Jeksanegara, Raden Gandarepa, dan utusan dari Kademangan Kuning yang bernama Jaka Kembang Kuning. Prabu Brawijaya sedang bersedih hati karena putri kesayangannya yang bernama Dewi Sekartaji meninggalkan kerajaan tanpa memberi tahu siapapun. Jaka Kembang Kuning menawarkan diri untuk mencari Dewi Sekartaji hingga ketemu. Prabu Brawijaya menyetujui kesanggupan Jaka Kembang Kuning dan memintanya untuk segera berangkat. Pada saat yang bersamaan datang Prabu Klana Gendingpita dari Kerajaan Surateleng (sabrang) mengajukan lamaran pada Prabu Brawijaya agar ia dinikahkan dengan Dewi Sekartaji. Prabu Brawijaya berjanji akan menerima lamaran itu setelah Dewi Sekartaji dapat ditemukan. Prabu Klana diminta untuk menunggu di Teratebang (tempat peristirahatan bagi tamu-tamu kerajaan Kediri).

Di Hargalawu Jaka Kembang Kuning yang diikuti oleh kedua Punakawannya (Tawangalun dan Nalederma) dalam perjalanan mencari Dewi Sekartaji bertemu dengan tiga orang ksatria, masing-masing Ganggawercitra, Jaladara, dan Gendrayuda. Ketiga kesatria ini mengajukan keinginannya pada Jaka Kembang Kuning agar dirinya dijadikan sebagai abdi. Jaka Kembang Kuning mengetahui bahwa sebenarnya ketiga kesatria itu adalah pengikut Prabu Klana yang disuruh untuk memata-matai Jaka Kembang Kuning yang dapat mengancam keselamatan jiwanya. Jaka Kembang Kuning menolak keinginan ketiga kesatria itu dan menyarankan agar mengabdikan diri pada Raden Gandarepa salah satu putra Prabu Brawijaya di Kediri. Saran Jaka Kembang Kuning diterima dan masing-masing melanjutkan perjalanannya.

Di Katumenggungan Palohamba, Tumenggung Conaconi memberitahukan mimpinya yaitu kejatuhan bulan (wahyu sakembaran) pada istrinya. Tumenggung ini mempunyai anak pungut yang sebenarnya Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri. Pada saat itu Dewi Sekartaji berpamitan pada Tumenggung Conaconi untuk berbelanja di pasar Katumenggungan. Setelah diberi beberapa nasihat oleh Tumenggung Conaconi beserta istrinya, Dewi Sekartaji diperbolehkan berangkat ke pasar.

Di pasar Katumenggungan Jaka Kembang Kuning, Naledarma, dan Tawangalun sedang mengadakan tontonan terbangan di antara kerumunan orang-orang di pasar. Dari kejauhan Jaka Kembang Kuning melihat kehadiran Dewi Sekartaji di tempat itu. Demikian juga Dewi Sekartaji melihat Jaka Kembang Kuning yang sebenaranya adalah Panji Asmarabangun kekasihnya. Dewi Sekartaji jatuh pingsan dan segera dibawa ke Katumenggungan Palohamba oleh beberapa temannya. Sementara Jaka Kembang Kuning kembali ke kademangan Kuning.

Di Kademangan Kuning, Ki Demang Kuning sedang menerima kedatangan Jaka Kembang Kuning, Naledarma dan Tawangalun. Mereka melaporkan perihal yang dialami selama berada di pasar Katumenggungan. Menanggapi laporan itu Demang Kuning menyuruh Tawangalun untuk menyampaikan berita bahwa Dewi Sekartaji berada di Katumenggungan Palohamba pada Prabu Brawijaya di Kediri, dan Naledarma disuruh menyampaikan kendhaga kepada Dewi Sekartaji.
Di Pangreburan (Taman sari Kerajaan Kediri), Dewi Retnamindaka salah satu abdi kepercayaan Prabu Brawijaya yang melayani Dewi Sekartaji sedang menerima kedatangan Dewi Retno Tenggaron (adik dari Prabu Klana). Retno Tenggaron mewakili kakaknya menyampaikan berbagai perhiasan sebagai tanda lamaran pada Dewi Sekartaji, tetapi ditolak oleh Retno Mindaka. Merasa tersinggung Retno Tenggaron mengancam Mindaka dan akhirnya terjadi pertengkaran yang berkembang menjadi pertempuran. Peperangan ini dimenangkan oleh Retno Mindaka, Retno Tenggaron melarikan diri.

Di Teratebang Raden Gandarepa, Patih Sedahrama, dan beberapa prajurit sedang mengatur barisan prajuritnya, datang Tawangalun yang hendak menyampaikan pesan Demang Kuning kepada Prabu Brawijaya. Patih Sedahrama dan Gandarepa mengantarkan Tawangalun menghadap Raja Kediri.
Di Kerajaan Kediri Prabu Brawijaya sedang menerima kedatangan Prabu Klana yang mendesak agar segera dinikahkan dengan Dewi Sekartaji dan belum mendapatkan kepastian. Pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Gandarepa dan Sedahrama yang mengantarkan Tawangalun. Setelah Tawangalun menyampaikan pesan Demang Kuning, Prabu Brawijaya memutuskan bahwa Prabu Klana akan segera dinikahkan dengan Sekartaji asal dapat mengalahkan Tawangalun, Prabu Klana menyanggupi.

Di Pesanggrahan Prabu Klana dan Patih Kebolorodan membicarakan perihal tantangan untuk mengalahkan Tawangalun sebagai salah satu syarat untuk dapat meperistri Dewi Sekartaji. Tidak lama kemudian datang Retno Tenggaron melaporkan bahwa dirinya telah dipermalukan oleh Retno Mindaka dan lamaran Prabu Klana ditolak. Prabu Klana marah dan akan menuntut balas atas perlakuan pada adiknya. Untuk memenuhi tantangan Prabu Brawijaya, Patih Kebolorodan yang disuruh untuk maju ke medan perang melawan Tawangalun.

Di kademangan Kuning Jaka Kembang Kuning mohon diri pada Demang Kuning untuk menyusul Tawangalun yang telah beberapa waktu belum kembali dari Kediri. Demang Kuning mengijinkan permintaan Jaka Kembang Kuning.
Di alun-alun Kediri Patih Kebolorodan berperang melawan Tawangalun dengan disaksikan oleh para punggawa dan prajurit Kediri serta pengikut Prabu Klana. Pertarungan itu dimenangkan oleh Patih
Kebolorodan, sementara Tawangalun mencari pertolongan ke luar arena pertarungan. Jaka Kembang Kuning bersama Naledarma yang datang menyusul telah kembali dan segera memberi pertolongan pada Tawangalun. Jaka Kembang Kuning meminta Naledarma untuk melanjutkan pertarungan melawan Kebolorodan. Akirnya Kebolorodan dapat dibunuh oleh Naledarmo. Setelah Tawangalun merasa sembuh dari lukanya, Patih Sedahrama menghadiahi sebuah keris (Pasopati) dengan maksud jika Prabu Klana datang menyerang Kediri Tawangalun harus ikut membantu menghadapinya.

Di Pesanggrahan, Prabu Klana dan Retno Tenggaron sedang berupaya mencari jalan untuk dapat membalas sakit hatinya pada Retno Mindaka dan bisa menemui Dewi Sekartaji di Keputren Kediri. Kesepakatan yang diperoleh, Prabu Klana akan berganti wujud sebagai Raden Gandarepa (kakak Sekartaji) agar tujuannya tercapai .

Di Tamansari Kerajaan Kediri Dewi Sekartaji yang baru saja kembali dari Kademangan Palohamba menerima kedatangan Gandarepa (tiruan) yang minta untuk dilayani. Karena gerak-gerik Gandarepa yang mencurigakan, Sekartaji tidak mau memenuhinya. Tidak lama kemudian datang Raden Gandarepa yang asli. Dewi Sekartaji segera dapat mengetahui saudaranya yang sebenarnya dan minta pertolongan agar musuh yang ada ditempat itu segera diusir, akhirnya terjadi peperangan. Gandarepa palsu dapat dikalahkan dan kembali ke wujud aslinya, Prabu Klana segera lari ke alun-alun.
Di alun-alun Kediri Prabu Klana yang dikejar Prabu Gandarepa menemui para pengikutnya. Sementara Tawangalun telah siap melakukan pertarungan melawan Prabu Klana dan pengikutnya. Pada akhir
pertarungan Tawangalun dapat membunuh Prabu Klana dengan keris Pasopati, sedangkan Retno Tenggaron dan para tawanan lainnya segera dibawa menghadap Prabu Brawijaya.
Di Kerajaan Kediri Prabu Brawijaya menerima para tawanan dan laporan tentang berbagai kejadian sejak hilangnya Dewi Sekartaji sampai terbunuhnya Prabu Klana. Prabu Brawjaya memutuskan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan Jaka Kembang Kuning dan segera mempersiapkan pesta perkawinan. Setelah segala persiapan selesai segera dilaksanakan upacara pernikahan antara Jaka Kembang Kuning dan Dewi Sekartaji.
Catatan:

Cerita ini jangan dijadikan patokan sejarah karena ada kerancuan "timeline". Jadi anggap saja sebagai dongeng.
Cerita tentang Panji Asmara Bangun/Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana itu populer pada jamannya Sri Kameswara III sebagai Raja Kediri..sedangkan Raja Brawijaya hidup pada Kerajaan Majapahit

Jumat, 25 Oktober 2013

pagi sobat semua. hehe... hari ini ane mau iseng-iseng aja. daripada ni blog nganggur karena jarang ada yang posting. ok langsung aja. ane mau ngisi blog ini dengan sesuatu.
sebelumnya maaf jika ada yang kurang berkenan dari sang pemilik foto atau pembaca. ini semua hanya hiburan aja. Oh iya, maaf saudari Ninik tidak ada. ane ga punya fotonya. maaf ya?