sore sobat.,.
ini aku ada sedikit cerita buat kalian,. ini adalah salah satu dari macam cerita panji,.
pastinya kalian tahu apa itu cerita panji,
cerita panji adalah kesusastraan lama yang berasal dari jawa, cerita ini muncul di akhir zaman majapahit, dan bahasa yang digunakan dalam cerita panji ini adalah bahasa jawa tengahan.
nah untuk lebih jelasnya apa itu cerita panji, coba baca dan simak baik-baik cerita yang berjudul " Dewi Sekartaji dan Jaka Kembang Kuning" ini, selamat membaca...
DEWI SEKARTAJI DAN JOKO KEMBANG KUNING
Di pendapa keraton Kediri, Prabu
Lembu Amijaya berkeluh kesah karena putrinya Dewi Sekartaji meninggalkannya.
Raja mengumumkan bahwa barangsiapa berhasil menemukan putri itu, akan
dinikahkan dengannya. Jaka Kembang Kuning (Panji Asmara Bangun) dari
Jenggala berangkat untuk mencari Dewi Sekartaji, begitu pula halnya dengan
Prabu Klana Gendingpita dari kerajaan asing. Setelah Jaka Kembang Kuning
mengalami pertikaian dengan sejumlah ksatria serta perjumpaan Dewi Sekartaji
dengan salah seorang mentri kerajaan, secara kebetulan keduanya bertemu
dipasar, dimana Jaka Kembang Kuning menyamar menjadi pemusik.
Di kerajaan Kediri Prabu Brawijaya sedang mengadakan pertemuan dengan para
punggawa kerajaan, masing-masing patih Tandamantri Arya Jeksanegara, Raden
Gandarepa, dan utusan dari Kademangan Kuning yang bernama Jaka Kembang
Kuning. Prabu Brawijaya sedang bersedih hati karena putri kesayangannya
yang bernama Dewi Sekartaji meninggalkan kerajaan tanpa memberi tahu
siapapun. Jaka Kembang Kuning menawarkan diri untuk mencari Dewi Sekartaji
hingga ketemu. Prabu Brawijaya menyetujui kesanggupan Jaka Kembang Kuning dan
memintanya untuk segera berangkat. Pada saat yang bersamaan datang Prabu
Klana Gendingpita dari Kerajaan Surateleng (sabrang) mengajukan lamaran
pada Prabu Brawijaya agar ia dinikahkan dengan Dewi Sekartaji. Prabu Brawijaya berjanji
akan menerima lamaran itu setelah Dewi Sekartaji dapat ditemukan. Prabu Klana
diminta untuk menunggu di Teratebang (tempat peristirahatan bagi
tamu-tamu kerajaan Kediri).
Di Hargalawu Jaka Kembang Kuning yang diikuti oleh kedua Punakawannya (Tawangalun
dan Nalederma) dalam perjalanan mencari Dewi Sekartaji bertemu dengan tiga
orang ksatria, masing-masing Ganggawercitra, Jaladara, dan Gendrayuda.
Ketiga kesatria ini mengajukan keinginannya pada Jaka Kembang Kuning agar
dirinya dijadikan sebagai abdi. Jaka Kembang Kuning mengetahui bahwa sebenarnya
ketiga kesatria itu adalah pengikut Prabu Klana yang disuruh untuk memata-matai
Jaka Kembang Kuning yang dapat mengancam keselamatan jiwanya. Jaka Kembang
Kuning menolak keinginan ketiga kesatria itu dan menyarankan agar mengabdikan
diri pada Raden Gandarepa salah satu putra Prabu Brawijaya di Kediri.
Saran Jaka Kembang Kuning diterima dan masing-masing melanjutkan perjalanannya.
Di Katumenggungan Palohamba, Tumenggung
Conaconi memberitahukan mimpinya yaitu kejatuhan bulan (wahyu sakembaran)
pada istrinya. Tumenggung ini mempunyai anak pungut yang sebenarnya Dewi
Sekartaji dari Kerajaan Kediri. Pada saat itu Dewi Sekartaji berpamitan pada
Tumenggung Conaconi untuk berbelanja di pasar Katumenggungan. Setelah diberi
beberapa nasihat oleh Tumenggung Conaconi beserta istrinya, Dewi Sekartaji
diperbolehkan berangkat ke pasar.
Di pasar Katumenggungan Jaka Kembang Kuning, Naledarma, dan Tawangalun sedang
mengadakan tontonan terbangan di antara kerumunan orang-orang di pasar. Dari
kejauhan Jaka Kembang Kuning melihat kehadiran Dewi Sekartaji di tempat itu.
Demikian juga Dewi Sekartaji melihat Jaka Kembang Kuning yang sebenaranya
adalah Panji Asmarabangun kekasihnya. Dewi Sekartaji jatuh pingsan dan segera
dibawa ke Katumenggungan Palohamba oleh beberapa temannya. Sementara Jaka
Kembang Kuning kembali ke kademangan Kuning.
Di Kademangan Kuning, Ki Demang Kuning sedang menerima kedatangan Jaka Kembang
Kuning, Naledarma dan Tawangalun. Mereka melaporkan perihal yang dialami selama
berada di pasar Katumenggungan. Menanggapi laporan itu Demang Kuning menyuruh
Tawangalun untuk menyampaikan berita bahwa Dewi Sekartaji berada di
Katumenggungan Palohamba pada Prabu Brawijaya di Kediri, dan Naledarma disuruh
menyampaikan kendhaga kepada Dewi Sekartaji.
Di Pangreburan (Taman sari Kerajaan Kediri), Dewi Retnamindaka salah
satu abdi kepercayaan Prabu Brawijaya yang melayani Dewi Sekartaji sedang
menerima kedatangan Dewi Retno Tenggaron (adik dari Prabu Klana). Retno
Tenggaron mewakili kakaknya menyampaikan berbagai perhiasan sebagai tanda
lamaran pada Dewi Sekartaji, tetapi ditolak oleh Retno Mindaka. Merasa
tersinggung Retno Tenggaron mengancam Mindaka dan akhirnya terjadi pertengkaran
yang berkembang menjadi pertempuran. Peperangan ini dimenangkan oleh Retno
Mindaka, Retno Tenggaron melarikan diri.
Di Teratebang Raden Gandarepa, Patih Sedahrama, dan beberapa prajurit sedang
mengatur barisan prajuritnya, datang Tawangalun yang hendak menyampaikan pesan
Demang Kuning kepada Prabu Brawijaya. Patih Sedahrama dan Gandarepa
mengantarkan Tawangalun menghadap Raja Kediri.
Di Kerajaan Kediri Prabu Brawijaya sedang menerima kedatangan Prabu Klana yang
mendesak agar segera dinikahkan dengan Dewi Sekartaji dan belum mendapatkan
kepastian. Pembicaraan mereka terhenti dengan kedatangan Gandarepa dan
Sedahrama yang mengantarkan Tawangalun. Setelah Tawangalun menyampaikan pesan
Demang Kuning, Prabu Brawijaya memutuskan bahwa Prabu Klana akan segera
dinikahkan dengan Sekartaji asal dapat mengalahkan Tawangalun, Prabu Klana
menyanggupi.
Di Pesanggrahan Prabu Klana dan
Patih Kebolorodan membicarakan perihal tantangan untuk mengalahkan Tawangalun
sebagai salah satu syarat untuk dapat meperistri Dewi Sekartaji. Tidak lama
kemudian datang Retno Tenggaron melaporkan bahwa dirinya telah dipermalukan
oleh Retno Mindaka dan lamaran Prabu Klana ditolak. Prabu Klana marah dan akan
menuntut balas atas perlakuan pada adiknya. Untuk memenuhi tantangan Prabu
Brawijaya, Patih Kebolorodan yang disuruh untuk maju ke medan perang melawan
Tawangalun.
Di kademangan Kuning Jaka Kembang Kuning mohon diri pada Demang Kuning untuk
menyusul Tawangalun yang telah beberapa waktu belum kembali dari Kediri. Demang
Kuning mengijinkan permintaan Jaka Kembang Kuning.
Di alun-alun Kediri Patih Kebolorodan berperang melawan Tawangalun dengan
disaksikan oleh para punggawa dan prajurit Kediri serta pengikut Prabu Klana.
Pertarungan itu dimenangkan oleh Patih
Kebolorodan, sementara Tawangalun mencari pertolongan ke luar arena pertarungan.
Jaka Kembang Kuning bersama Naledarma yang datang menyusul telah kembali dan
segera memberi pertolongan pada Tawangalun. Jaka Kembang Kuning meminta
Naledarma untuk melanjutkan pertarungan melawan Kebolorodan. Akirnya
Kebolorodan dapat dibunuh oleh Naledarmo. Setelah Tawangalun merasa sembuh dari
lukanya, Patih Sedahrama menghadiahi sebuah keris (Pasopati) dengan maksud jika
Prabu Klana datang menyerang Kediri Tawangalun harus ikut membantu
menghadapinya.
Di Pesanggrahan, Prabu Klana dan Retno Tenggaron sedang berupaya mencari jalan
untuk dapat membalas sakit hatinya pada Retno Mindaka dan bisa menemui Dewi
Sekartaji di Keputren Kediri. Kesepakatan yang diperoleh, Prabu Klana akan
berganti wujud sebagai Raden Gandarepa (kakak Sekartaji) agar tujuannya tercapai
.
Di Tamansari Kerajaan Kediri Dewi Sekartaji yang baru saja kembali dari
Kademangan Palohamba menerima kedatangan Gandarepa (tiruan) yang minta untuk
dilayani. Karena gerak-gerik Gandarepa yang mencurigakan, Sekartaji tidak mau
memenuhinya. Tidak lama kemudian datang Raden Gandarepa yang asli. Dewi
Sekartaji segera dapat mengetahui saudaranya yang sebenarnya dan minta
pertolongan agar musuh yang ada ditempat itu segera diusir, akhirnya terjadi
peperangan. Gandarepa palsu dapat dikalahkan dan kembali ke wujud aslinya,
Prabu Klana segera lari ke alun-alun.
Di alun-alun Kediri Prabu Klana yang dikejar Prabu Gandarepa menemui para
pengikutnya. Sementara Tawangalun telah siap melakukan pertarungan melawan
Prabu Klana dan pengikutnya. Pada akhir
pertarungan Tawangalun dapat membunuh Prabu Klana dengan keris Pasopati,
sedangkan Retno Tenggaron dan para tawanan lainnya segera dibawa menghadap
Prabu Brawijaya.
Di Kerajaan Kediri Prabu Brawijaya menerima para tawanan dan laporan tentang
berbagai kejadian sejak hilangnya Dewi Sekartaji sampai terbunuhnya Prabu
Klana. Prabu Brawjaya memutuskan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan Jaka
Kembang Kuning dan segera mempersiapkan pesta perkawinan. Setelah segala
persiapan selesai segera dilaksanakan upacara pernikahan antara Jaka Kembang
Kuning dan Dewi Sekartaji.
Catatan:
Cerita ini jangan dijadikan patokan sejarah karena ada kerancuan
"timeline". Jadi anggap saja sebagai dongeng.
Cerita tentang Panji Asmara Bangun/Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji atau
Galuh Candrakirana itu populer pada jamannya Sri Kameswara III sebagai Raja
Kediri..sedangkan Raja Brawijaya hidup pada Kerajaan Majapahit