00.06
Ibu Kota
Senja
Toto Sudarto Bachtiar
Penghidupan
sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara
kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di
sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson
oto dan lonceng trem saing-menyaingi
Udara
menekan berat di atas jalan panjang berkelokan
Gedung-gedung
dan kepala mengabur dalam senja
Mengarungi
dan layung-layung membara di langit barat daya
0,
kota kekasih
Tekankan
aku pada pusat hatimu
Di
tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu
Aku
seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber
yang murni terpendam
Senantiasa
diselaputi bumi keabuan
Dan
tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu
waktu mengangkut maut
Aku
tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian
kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu
waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta
keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam
penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara
kuli-kuli yang kembali
Dan
perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Serta
anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di
bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung
senja melambung hilang
Dalam
hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber
murni menetap terpendam
Senantiasa
diselaputi bumi keabuan
Serta
senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
0,
kota kekasih setelah senja
Kota
kediamanku, kota kerinduanku
Memahami Puisi, 1995
Mursal Esten
Pahlawan
Tak Dikenal
Toto Sudarto Bahtiar
Sepuluh
tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi
bukan tidur, sayang
Sebuah
lubang peluru bundar di dadanya
Senyum
bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua
lengannya memeluk senapang
Dia
tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian
dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap
sepi padang senja
Dunia
tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia
masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang
ingin kembali memandangnya
Sambil
merangkai karangan bunga
Tapi
yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi
bukan tidur, sayang
Sebuah
peluru bundar di dadanya
Senyum
bekunya mau berkata : aku sangat muda
(1955)
Siasat,
Th IX, No. 442 1955
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian
Tanah Air
Kembalikan Indonesia Padaku
Taufik Ismail
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut
yang menganga,
Hari depan
Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna
putih dan sebagian hitam,
yang menyala
bergantian,
Hari depan
Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang
bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan
Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus
juta penduduknya,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main
pingpong siang malam
dengan bola telur
angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan
Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat
bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan
Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut
itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan
sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan
Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main
pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa
seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Hari depan Indonesia adalah pertandingan
pingpong siang malam
dengan bola yang
bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan
Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus
juta penduduknya,
Hari depan
Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna
putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan
Indonesia
padaku
Paris,
1971
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Taufiq Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan perjuangan!
Membaca Tanda-Tanda
Taufiq Ismail
Ada
sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari
tangan
dan
meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada
sesuatu yang mulanya
tak
begitu jelas
tapi kini
kita mulai merindukannya
Kita
saksikan udara
abu-abu
warnanya
Kita
saksikan air danau
yang
semakin surut jadinya
Burung-burung
kecil
tak lagi
berkicau pagi hari
Hutan
kehilangan ranting
Ranting
kehilangan daun
Daun
kehilangan dahan
Dahan
kehilangan
Hutan
Kita saksikan
zat asam
didesak
asam arang
dan
karbon dioksid itu
menggilas
paru-paru
Kita
saksikan
Gunung
memompa abu
Abu
membawa batu
Batu
membawa lindu
Lindu
membawa longsor
Longsor
membawa air
Air
membawa banjir
Banjir
membawa air
Air
Mata
Kita
telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah
kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami
telah membaca gempa
Kami
telah disapu banjir
Kami
telah dihalau api dan hama
Kami
telah dihujani abu dan batu
Allah
Ampuni
dosa-dosa kami
Beri kami
kearifan membaca
Seribu
tanda-tanda
Karena
ada sesuatu yang rasanya
mulai
lepas dari tangan
dan
meluncur lewat sela-sela jari
Karena
ada sesuatu yang mulanya
tak
begitu jelas
tapi kini
kami
mulai
merindukannya.
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah
tetangga
suaranya keras menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani
Dia akan mensubsidi beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin baru peluru runcing
Ke arah aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran
juga
Mulutmu belum selesai bicara
kau pasti dikencinginya
Kita
Adalah Pemilik Syah Republik Ini
Taufiq Ismail
Tidak
ada lagi pilihan
Kita
harus berjalan terus
Karena
berhenti atau mundur
berarti
hancur
apakah
akan kita jual keyakinan kita
dalam
pengabdian tanpa harga
akan
maukah kita duduk satu meja
dengan
para pembunuh tahun yang lalu
dalam
setiap kalimat yang berakhiran
“Duli
Tuanku!”
Tidak
ada lagi pilihan
Kita
harus berjalan terus
Kita
adalah manusia bermata sayu,
Yang
di tepi jalan mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita
adalah berpuluh juta yang bertahan hidup sengsara
Dipukul
banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan
bertanya-tanya diam inikah yang namanya merdeka
Kita
yang tak punya dengan seribu slogan
Dan
seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak
ada lagi pilihan
Kita
harus berjalan terus
Aku Tulis
Pamplet Ini
WS. Rendra
Aku tulis pamplet ini
karena
lembaga pendapat umum
ditutupi
jaring labah-labah
Orang-orang
bicara dalam kasak-kusuk,
dan
ungkapan diri ditekan
menjadi
peng – iya – an
Apa
yang terpegang hari ini
bisa
luput besok pagi
Ketidakpastian
merajalela.
Di
luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi
marabahaya
menjadi
isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka
hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga
pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak
mengandung perdebatan
Dan
akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena
pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku
inginkan merpati pos.
Aku
ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku
ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
kenapa
harus diam tertekan dan termangu.
Aku
ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk
berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran
telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan
telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan
memberi mimpi pada dendam.
Gelombang
angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah
Kegamangan.
Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena
kawan dan lawan adalah saudara
Di
dalam alam masih ada cahaya.
Matahari
yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu
besok pagi pasti terbit kembali.
Dan
di dalam air lumpur kehidupan,
aku
melihat bagai terkaca :
ternyata
kita, toh, manusia !
Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
Gugur
WS. Rendra
Ia
merangkak
di
atas bumi yang dicintainya
Tiada
kuasa lagi menegak
Telah
ia lepaskan dengan gemilang
pelor
terakhir dari bedilnya
Ke
dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di
atas bumi yang dicintainya
Ia
sudah tua
luka-luka
di badannya
Bagai harimau tua
susah
payah maut menjeratnya
Matanya
bagai saga
menatap
musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima
pemuda mengangkatnya
di
antaranya anaknya
Ia
menolak
dan
tetap merangkak
menuju
kota kesayangannya
Ia merangkak
di
atas bumi yang dicintainya
Belum
lagi selusin tindak
mautpun
menghadangnya.
Ketika
anaknya memegang tangannya
ia
berkata :
”
Yang berasal dari tanah
kembali
rebah pada tanah.
Dan
aku pun berasal dari tanah
tanah
Ambarawa yang kucinta
Kita
bukanlah anak jadah
Kerna
kita punya bumi kecintaan.
Bumi
yang menyusui kita
dengan
mata airnya.
Bumi
kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi
kita adalah kehormatan.
Bumi
kita adalah juwa dari jiwa.
Ia
adalah bumi nenek moyang.
Ia
adalah bumi waris yang sekarang.
Ia
adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari
pun berangkat malam
Bumi
berpeluh dan terbakar
Kerna
api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah,
hari telah fajar !
Wahai
bumi yang indah,
kita
akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti
sekali waktu
seorang
cucuku
akan
menacapkan bajak
di
bumi tempatku berkubur
kemudian
akan ditanamnya benih
dan
tumbuh dengan subur
Maka
ia pun berkata :
-Alangkah
gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika
menutup matanya
Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
Sajak Seorang
Tua Tentang Bandung Lautan Api
WS.
Rendra
Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan
wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan
kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara
Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan
kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan
menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang
jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba
Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat
manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah
sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?
Hidup yang disyukuri adalah hidup
yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala
tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?
Apakah ini bau asam medan laga
tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini
?
Apakah ini deru perjuangan masa
silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap.
Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu,
putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?
Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang
terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab
pertanyaan kami ?
Wahai teman-teman seperjuanganku
yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba
terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam
yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan
mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.
Sajak-sajak : Rendra, Sutardji Calzoum Bachri
pada Hari Kebangkitan Nasional 1990
Sajak Mata-Mata
WS. Rendra
Ada
suara bising di bawah tanah.
Ada
suara gaduh di atas tanah.
Ada
ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.
Ada
tangis tak menentu di tengah sawah.
Dan,
lho, ini di belakang saya
ada
tentara marah-marah.
Apa
saja yang terjadi ? Aku tak tahu.
Aku
melihat kilatan-kilatan api berkobar.
Aku
melihat isyarat-isyarat.
Semua
tidak jelas maknanya.
Raut
wajah yang sengsara, tak bisa bicara,
menggangu
pemandanganku.
Apa
saja yang terjadi ? Aku tak tahu.
Pendengaran
dan penglihatan
menyesakkan
perasaan,
membuat
keresahan –
Ini
terjadi karena apa-apa yang terjadi
terjadi
tanpa kutahu telah terjadi.
Aku
tak tahu. Kamu tak tahu.
Tak
ada yang tahu.
Betapa
kita akan tahu,
kalau
koran-koran ditekan sensor,
dan
mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.
Koran-koran
adalah penerusan mata kita.
Kini
sudah diganti mata yang resmi.
Kita
tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.
Kita
hanya diberi gambara model keadaan
yang
sudah dijahit oleh penjahit resmi.
Mata
rakyat sudah dicabut.
Rakyat
meraba-raba di dalam kasak-kusuk.
Mata
pemerintah juga diancam bencana.
Mata
pemerintah memakai kacamata hitam.
Terasing
di belakang meja kekuasaan.
Mata
pemerintah yang sejati
sudah
diganti mata-mata.
Barisan
mata-mata mahal biayanya.
Banyak
makannya.
Sukar
diaturnya.
Sedangkan
laporannya
mirip
pandangan mata kuda kereta
yang
dibatasi tudung mata.
Dalam
pandangan yang kabur,
semua
orang marah-marah.
Rakyat
marah, pemerinta marah,
semua
marah lantara tidak punya mata.
Semua
mata sudah disabotir.
Mata
yang bebas beredar hanyalah mata-mata.
Hospital Rancabadak, Bandung, 28
Januari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
Ketika maut mencegatnya di delapan
penjuru.
Sang ksatria berdiri dengan mata
bercahaya
Hatinya damai
di dalam dadanya yang bedah dan
berdarah
karena ia telah lunas
menjalani kewjiban dan kewajarannya
Setelah ia wafat
apakah petani-petani akan tetap
menderita
dan para wanita kampung
tetap membanjiri rumah pelacuran di
kota
Itulah pertanyaan untuk kita yang
hidup
Tetapi bukan itu yang terlintas di
kepalanya
ketika ia tegak dengan tubuh yang
penuh luka-luka
Saat itu ia mendengar
nyanyian angin dan air yang turun
dari gunung
Perjuangan adalah satu pelaksanaan
cita dan rasa
Perjuangan adalah pelunasan
kesimpulan penghayatan
Di saat badan berlumur darah
jiwa duduk di atas teratai
Ketika ibu-ibu meratap
dan mengurap rambut mereka dengan
debu
roh ksatria bersetubuh dengan
cakrawala
untuk menanam benih
agar nanti terlahir para pembela
rakyat tertindas
dari zaman ke zaman.
Jakarta, 2 Sptember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit
Fajar tiba
Dan aku melihat delapan juta
kanak-kanak
tanpa pendidikan
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis-papantulis para
pendidik
yang terlepas dari persoalan
kehidupan
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
Menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana-sarjana
menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun
Dan di langit
para tekhnokrat berkata
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang
diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam
senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair
salon
yang bersajak tentang anggur dan
rembulan
sementara ketidakadilan terjadi di
sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa
pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi
kesenian
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka
samodra
Kita harus berhenti membeli
rumus-rumus asing
Diktat-diktat hanya boleh memberi
metode
tetapi kita sendiri mesti
merumuskan keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa-desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita
lingkungan
Apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah
kehidupan.
19 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi
Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
WS. Rendra
Tuhanku,
WajahMu
membayang di kota terbakar
dan
firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan
yang dangkal
Anak
menangis kehilangan bapa
Tanah
sepi kehilangan lelakinya
Bukannya
benih yang disebar di bumi subur ini
tapi
bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila
malam turun nanti
sempurnalah
sudah warna dosa
dan
mesiu kembali lagi bicara
Waktu
itu, Tuhanku,
perkenankan
aku membunuh
perkenankan
aku menusukkan sangkurku
Malam
dan wajahku
adalah
satu warna
Dosa
dan nafasku
adalah
satu udara.
Tak
ada lagi pilihan
kecuali
menyadari
-biarpun
bersama penyesalan-
Apa
yang bisa diucapkan
oleh
bibirku yang terjajah ?
Sementara
kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap
bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat
kugenggam senapanku
Perkenankan
aku membunuh
Perkenankan
aku menusukkan sangkurku
Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25; 18 Juni 1960
Gerilya
WS. Rendra
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya.
Siasat
Th IX, No. 42
1955
Atas ranjang batu
tubuhnya panjang
bukit barisan tanpa bulan
kabur dan liat
dengan mata sepikan terali
Di lorong-lorong
jantung matanya
para pemuda bertangan merah
serdadu-serdadu Belanda rebah
Di mulutnya menetes
lewat mimpi
darah di cawan tembikar
dijelmakan satu senyum
barat di perut gunung
(Para pemuda bertangan merah
adik lelaki neruskan dendam)
Dini hari bernyanyi
di luar dirinya
Anak lonceng
menggeliat enam kali
di perut ibunya
Mendadak
dipejamkan matanya
Sipir memutar kunci selnya
dan berkata
-He, pemberontak
hari yang berikut bukan milikmu !
Diseret di muka peleton algojo
ia meludah
tapi tak dikatakannya
-Semalam kucicip sudah
betapa lezatnya madu darah.
Dan tak pernah didengarnya
enam pucuk senapan
meletus bersama
Kisah
Th VI, No 11
Nopember 1956
Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata
Sedalam-dalam sajak takkan mampu
menampung airmata
bangsa. Kata-kata telah lama
terperangkap dalam basa-basi
dalam teduh pekewuh dalam isyarat
dan kisah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada
wajah berjuta. Wajah orang
jalanan yangberdiri satu kaki dalam
penuh sesak bis kota.
Wajah orang tergusur. Wajah yang
ditilang malang. Wajah legam
para pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan.
Wajah yang hanya mampu menjadi
sekedar penonton etalase
indah di berbagai palaza. Wajah
yang diam-diam menjerit
mengucap
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu !
Tapi wahai saudara satu bendera
kenapa sementara jalan jalan
mekar di mana-mana menghubungkan
kota-kota, jembatan-jembatan
tumbuh kokoh merentangi semua
sungai dan lembah
yang ada, tapi siapakah yang akan
mampu menjembatani jurang
di antara kita ?
Di lembah-lembah kusam pada puncak
tilang kersang dan otot
linu mengerang mereka pancangkan
koyak-miyak bendera hati
dipijak ketidakpedulian pada
saudara. Gerimis tak ammpu
mengucapkan kibarnnya.
Lalu tanpa tangis mereka menyanyi
padamu negeri airmata kami.
Tidakkah
sakal, negeriku ? Muram dan liar
Negeri
ombak
Laut
yang diacuhkan musafir
karena
tak tahu kapan badai keluar dari eraman
Negeri
batu karang yang permai, kapal-kapal menjauhkan diri
Negeri
burung-burung gagak
Yang
bertelur dan bersarang di muara sungai
Unggas-unggas
sebagai datang dan pergi
Tapi
entah untuk apa
Nelayan-nelayan
tak tahu
Aku
impikan sebuah tambang laogam
Langit
di atasnya menyemburkan asap
Dan
menciptakan awan yang jenaka
Bagai
di badut dalam sandiwara
Dengan
cangklong besar dan ocehan
Batuk-batuk
keras
Seorang
wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalah
berita-berita yang ditulis
Dalam
bahasa yang kacau
Dalam
huruf-huruf yang coklat muda
Dan
undur dari bacaan mata
Di
manakah ia kausimpan dalam dokumntasi dunia ?
Kincir-kincir
angin itu
Seperti
sayap-sayap merpati yang penyap
Dan
menyebarkan lelap ke mana-mana
Sebagai
pupuk bagi udaranya
Lihat sungai-sungainya, hutan-hutannya dan sawah-sawahnya
Ratusan
gerobag melintasi jembatan yang belum selesai kaubikin
Kota-kotanya
bertempat di sudut belakang peta dunia
Negeri
ular sawah
Negeri
ilalang-ilalang liar yang memang dibiarkan tumbuh subur
Tumpukan
jerami basah
Minyak
tanahnya disimpan dalamkayu-kakyu api bertumpuk
Dan
bisa kau jadikan itu sebagai api unggun
Untuk
persta-pesta barbar
Indonesia
adalah buku yang sedang dikarang
Untuk
tidak dibaca dan untuk tidak diterbitkan
Di
kantor penerimaan tenaga kerja
Orang-orang
sebagai deretan gerbong kereta
Yang
mengepulakan asap dan debu dari kaki dan keningnya
Dan
mulutnya ternganga
Tatkala
bencana mendamprat perutnya
Berapa
hutangmu di bank ? Di kantor penenaman modal asing ?
Di
dekat jembatantua
malaikat-malaikat
yang celaka
Melagu
panjang
Dan
lagunya tidak berarti apa-apa
Dan
akan pergi ke mana hewan-hewan malam yangterbang jauh
Akan
menjenguk gua mana, akan berteduh di rimba raya mana ?
Ratusan
gagak berisik menuju kota
Menjalin
keribuan di alun-alun, di tiap tikungan jalan
Puluhan
orang bergembira
Di
atas bayangan mayat yang berjalan
Memasuki
toko dan pasar
Di
mana dipamerkan barang-barang kerajinan perak
Dan
emas tiruan
Indonesia
adalah kantor penampungan para penganggur
yang
atapnya bocor dan administrasinya kacau
Dijaga
oleh anjing-anjing yang malas dan mengantuk
Indonesia
adalah sebuah kamus
Yang
perbendaharaan kata-katanya ruwet
Dibolak-balik,
digeletakkan, diambil lagi, dibaca, dibolak-balik
Sampai
mata menjadi bengkak
Kata
kerja, kata seru, kata bilangan, kata benda, kata ulang,
kata
sifat
Kata
sambung dan kata mejemuk masuk ke dalam mimpimu
Di
mana kamus itu kau pergunakan di sekolah-sekolah dunia ?
Di
manakah kamus itu kaujual di pasaran dunia ?
Berisik
lagi, berisiklagi :
Gerbong-gerbong
kereta
membawa
penumpang yang penuh sesak
dan
orang-orang itu pada memandang ke sorga
Dengan
matanya yang putus asa dan berkilat :
Tuhanku,
mengapa kaubiarkan ular-ular yang lapar ini
Melata
di bumi merusaki hutan-hutan
Dan
kebun-kebunmu yang indah permai
Mengapa
kaubiarkan mereka
Negeri ombak
Badai
mengeram di teluk
Unggas-unggas
bagai datang dan pergi
Tapi
entah untuk apa
Nelayan-nelayan
tak tahu.
Karawang Bekasi
Chairil
Anwar
Kami yang kini
terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak
"Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang
tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami
maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu
dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa
hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah
kami
Kami sudah coba
apa yang kami bisa
Tapi kerja belum
selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri
kami punya jiwa
Kerja belum
selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma
tulang-tulang berserakan
Tapi adalah
kepunyaanmu
Kaulah lagi yang
tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami
melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk
apa-apa
Kami tidak tahu,
kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu
dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa
hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah
kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung
Syahrir
Kami sekarang
mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus
di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah
kami
Yang tinggal
tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami
terbaring antara Karawang-Bekasi
Indonesia
Tumpah Darahku
Muhammad
Yamin
Bersatu kita teguh
Bercerai kita runtuh
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya. Tanah airku
Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air, malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang
Sejak malam diberi kelam
Sampai purnama terang-benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di alam nan lapang
Tumpah darah Nusa India
Dalam hatiku selalu mulia
Dijunjung tinggi atas kepala
Semenjak diri lahir ke bumi
Sampai bercerai badan dan nyawa
Karena kita sedarah-sebangsa
Bertanah air di Indonesia
Bahasa, Bangsa
Muhammad
Yamin
Sejak kecil berusia muda,
Tidur si anak di pangkuan bunda
Ibu bernyanyi, lagu dan dendang
Memuji si anak banyaknya sedang;
Berbuai sayang tergantung di tanah
moyang
Terlahir di bangsa, berbahasa
sendiri
Diapit keluarga kanan dan kiri
Besar budiman di tanah Melayu
Berduka suka, sertakan rayu;
Perasaan serikat menjadi padu
Dalam bahasanya, permai merdu
Merayap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya;
Bernafas kita pemanjangan nyawa
Dalam bahasa sambungan jiwa
Di mana Sumatra, di situ bangsa
Di mana Perca, di sana bahasa
Andalasku sayang, jana bejana
Sejakkan kecil muda teruna
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa, tiadakan pernah
Ingat pemuda, Sumatera malang
Tiada bahasa, bangsa pun hilang
Sastra
Baru Indonesia I, A. Teeuw, Nusa Indah, Ende, Flores, 1980
Kita selalu
berada di daerah
perbatasan
antara menang dan
mati. Tak boleh lagi
ada kebimbangan
memilih keputusan :
Adakah kita mau
merdeka atau dijajah lagi.
Kemerdekaan berarti
keselamatan dan bahagia,
Juga kehormatan bagi
manusia
dan keturunan. Atau
kita menyerah saja
kepada kehinaan dan
hidup tak berarti.
Lebih baik mati.
Mati lebih mulia
dan kekal daripada
seribu tahun
terbelenggu dalam
penyesalan.
Karena itu kita
tetap di pos penjagaan
atau menyusup di
lorong-lorong kota pedalaman
dengan pestol di
pinggang dan bedil di tangan.
(Sepagi tadi sudah
jatuh korban). Hidup
menuntut pertaruhan,
dan kematian hanya
menjamin kita
menang. Tetapkan hati.
tak boleh lagi ada
kebimbangan
di tengah kelaliman
terus mengancam.
Taruhannya hanya
mati.
Kita telah banyak
kehilangan :
waktu dan harta,
kenangan dan teman setia
selama perjuangan
ini. Apa yang kita capai :
Kemerdekaan buat
bangsa, harga diri dan
hilangnya ketakutan
pada kesulitan.
Kita telah tahu apa
artinya menderita
di tengah kelaparan
dan putus asa. Kematian
hanya tantangan
terakhir yang setia kita hadapi
demi kemenangan ini.
Percayalah :
Buat kebahagiaan
bersama
tak ada korban yang
cukup berharga. Tapi
dalam kebebasan ini
masih tinggal keresahan
yang tak kunjung
berhenti : apa yang menanti
di hari esok :
kedamaian atau pembunuhan
lagi. Begitu banyak
kita mengalami kegagalan
dalam membangun hari
depan : pendidikan
tak selesai,
cita-cita pribadi hancur
dalam kekacauan
bertempur, cinta yang putus
hanya oleh hilangnya
pertalian. Tak ada yang terus
bisa berlangsung.
Tak ada kepastian yang bertahan
Kita telah
kehilangan kepercayan kepada keabadian
Semua hanya
sementara: cinta kita, kesetiaan kita.
Kita hidup di tengah
kesementaraan segala. Di luar
rumah terus menunggu
seekor srigala.
Waktu peluru pertama
meledak
Tak ada lagi hari
minggu atau malam istirahat
Tangan penuh kerja
dan mata terjaga
mengawasi pantai dan
langit yang hamil oleh khianat
Mulut dan bumi
berdiam diri. satunya suara
hanya teriak nyawa
yang lepas dari tubuh luka,
atau jerit hati
mendendam mau
membalas
kematian.
Harap berjaga. Kita
memasuki daerah perang.
Kalau peluru pertama
meledak
Kita harus paling
dulu menyerang
dan mati atau menang
Mintalah pamit
kepada anak dan keluarga
dan bilang : Tak ada
lagi waktu buat cinta
dan bersenang. Kita
simpan kesenian dan
budaya di hari tua.
Kita mengangkat senjata
selagi muda
dan mati atau
menang.
Bahasaku
Mozasa
Aku menya’ir,
aku bernalam
mencurai kasih
melimpah sayang,
berbisik sedih
bersorai girang,
dengan bahasa seri
pualam.
Aku bernyanyi
mengayun padi
memikul bulir
memberat emas,
aku menghimbau
burung bebas,
dengan
bahasa-moyangku asli.
Bukan hina
bahasaku kini,
tidak kaku ia
tersenyum,
hebat – gembira
ia menderum,
tangkas –
cekatan ia mencari.
O saudara congkak mulia,
melonjak
khidmat bahasa Sana
memuji tinggi
bahasa orang.
Mari sertaku ke
taman indah,
membelai
memupuk bahasa kita,
biar sukur
megah menjulang.
Pujangga Baru, No, Th. IV, April 1937
Generasi Sekarang
Asmara Hadi
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Memandang ke bawah, ke tempat
berjuang
Generasi sekarang di padang masa
Menciptakan kemegahan baru
Panteon keindahan Indonesia
Yang akan jadi kenang-kenangan
Pada zamannya dalam dunia
Bersoorak jiwaku girang-gemirang
Tampil kegembiraan limpah-melimpah
Dalam kencana sinar-suminar
Bagai angkatan kapal terbang
Gembira dahsyat getarkan udara
Begitulah angkatan zaman sekarang
Dunia raya penuh suara
Dan jiwaku merasa penuh tahu
Generasi sekarang pasti akan menang
Akan ninggalkan bekas dan jejak
Dalam riwayat abadi dan terang.
Nasib Tanah Airku
Asmara Hadi
I
Panas yang terik datang membakar,
Lemahlah kembang hampirkan mati,
Tunduk tergantung bersedih hati,
Mohon air kepada akar.
Mendapat air amatlah sukar,
Belumlah turun hujan dinanti,
Musim kemarau belum berhenti,
Angin bertiup belum bertukar.
Seperti kembang hampirkan layu,
Lemah tampaknya, rawan dan sayu,
Demikianlah ‘kau Indonesia
Nasibmu malang amatlah celaka,
Hidup dirundung malapetaka,
Tidak mengenal rasa Bahagia.
II
Mentari datang menghalaukan malam,
Menyinarkan senyum penuh cahaya,
Dunia lah bangun member sala,
Nyanyian yang merdu menyambut surya.
Lihatlah teratai di dalam kolam,
Tersenyum membuka kuntumnya, dia,
Menghamburkan harum ke dalam alam,
Pemuja pagi gemilang mulia
Memandang pagi menyedapkan mata,
Keraguan hati hilang semata,
Memikirkan nasib Tanah Airku.
Seperti mentari di kala pagi,
Kemerdekaan tentu datang lagi,
Menerangi Tanah tempat lahirku.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung
mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan
sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku
padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang
sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu
terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak
sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja
jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan
salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar
di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan,
benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o
anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk
mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah
berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat
dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu..
dengan modal kecil dapatkan keuntungan besar ratusan juta rupiah setiap hari dengan bergabung bersama situs resmi terpercaya MURAHQQ
BalasHapus