COPADA_IPA 2

Grup IPA 2 MAN REJOTANGAN / MAN 3 Tulungagung

COPADA_IPA 2

Dibentuk pada Tahun 2012

COPADA_IPA 2

Dibentuk di Sebuah Ruangan "The Litle Box to get Success"

COPADA_IPA 2

Terdiri Dari 31 Anak, 6 Laki-Laki

COPADA_IPA 2

31 Anak, 25 Perempuan

Jam

Jumat, 18 April 2014

naskah drama 2


BENDERA
SETENGAH
TIANG
(Terinspirasi dari Puisi Negeri Para Bedebah: Adhie M Massardi)



Karya
Zohry Junedi










_____________________________________________

Catatan publisher BandarNaskah.blogspot.com:
Mementaskan naskah ini harap menghubungi penulis untuk sekedar pemberitahuan.
Penulis: Zohry Junedi
Facebook:
http://www.facebook.com/profile.php?id=1704112218
HP: 0
81229091987


Prolog Terlalu naïf bagi negeri ini, bila harus kisah ini kusimpan sendiri dalam kukungan ketidakadilan, keserakahan dan kesewenang wenangan, bangsa ini sudah terlalu sabar mentolerir setiap dosa dosa yang kemudian dianggap musibah masal sebagai kambing hitam atas kita, biar pertiwi ini tau bahwa dinegeri ini pernah ada satu kisah yang mungkin saja tidak patut diteladani, oleh kita.

 ADEGAN I
(Instrument Music: Merpati Putih, Erwin Gutawa)

Muncul sosok bayangan 2 orang kelam, tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan, mereka terlibat dalam transaksi gelap, konspirasi!

ADEGAN II
(Countinue Instrument Music: Merpati Putih)

Seorang lelaki tak muda, muncul perlahan lahan menuju tiang bendera yang telah dikibarkan setengah tiang sebagai perlambang duka atas banyak pristiwa yang menimpa ibu pertiwi. Disusul beberapa orang penghuni pemukiman kumuh, dibawah kolong langit itu.

Orang Tua:
(Hormat penuh haru ketiang bendera)

Pengemis I:
(mengais ngais sampah berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan)

Pengemis II:
(masuk memulung sampah disekitar panggung)

Wanita I,II:
(mencuci baju dipinggir sungai)

Wanita III dan anaknya:
(sibuk menimang bayinya yang kurang gizi)
Pengemis I:
(sambil terus melahap sisa2 makanannya)
hei orang tua, berhentilah menggoda bendera itu, setiap hari kulihat kau selalu berdiri tak pantang sekalipun panas, lihatlah tubuhmu sekarang kurus serupa bambu tua itu,

Pengemis II:
Bagooss . .  . BagooSs . .

Pengemis I:
Hei orang tua, sebenarnya apa yang kau harapkan dari sikapmu itu?? Sepanjang hari hanya menatap bendera itu saja, Dasar orang tua goblok, orang tua aneh!

Pengemis II:
Betul . . . Betul . . .

Pengemis I:
Wahai orang tua, berhentilah menjadi orang sok idealis seperti itu, berhentilah menjadi orang suci, takkah kau lihat di negeri ini tidak ada lagi namanya keidealisan, tidak ada lagi orang orang sok suci sepertimu, terlebih lagi orang miskin,ya kayak situ!!! semuanya serigala berbulu racun, sudah tidak ada lagi orang – orang yang dapat dipercaya dinegeri ini,

Pengemis II:
Betul . . . betul . . .

Pengemis I:
negeri ini adalah negeri para bedebah, hahahaaa . . . .
kau tau ciri ciri negeri para bedebah wahai orang tua???
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Pengemis II:
Betul . . . betul . . .

Pengemis I:
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Pengemis II:
Betul . . . betul . . .

Pengemis I:
Hei pemulung goblok, tal tul tal tul, ngerti apa luh tentang negeri ini, sekolah aja ga. kau tau? kita semua ini adalah korban korban penindasan di negeri merdeka:  lihat saja Gayus Tambunan dan Misbakhul, sekarang sedang enak enaknya menari di udelmu ituh??!!

Pengemis II:
betul betul betul . . .
He, udel husss!!! jangan sembarang klo ngomong ntar ditangkap Propam lho, heheee . . .

Pengemis I:
Heiii asal kamu tau yah, sekarang ini jamannya reformasi, semua orang bebas bersuara , liat aja Si Julia Perez bisa ikut nyalon bupati di pacitan dan si Maria Eva kasus video porno dulu dibolehkan nyalon jadi bupati sidoarjo ??!

Pengemis II:
Demokrasi ya Demokrasi Bos asal jangan kebablasan ajah,
Ohh ia satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu ???


Pengemis I:
Apa tuh ???

Pengemis II:
Prikitiewwwwwwww . . . .!!!!?!?!

Pengemis I:
Brengsekkk!!!!!

(pengemis I melanjutkan kembali makan dari mengais sampah)

Pengemis I:
Haaa, aku tau . . . aku tau . . . aku tau mengapa kau rela berdiri tegap penuh hikmad seperti ini setiap hari, aku tau, kau pasti Berharap dapat penghargaan dari presiden yah, akhhh, kau pasti ikut undian berhadiah yah, biar dapat uang banyak dari presiden yah, wah wah wah . . .
Ternyata kau licik juga orang tua!!!!
Wah klo begitu aku harus ikut berdiri juga . . . .

Pengemis II:
Iya betul betul . . .
Ha, hadiah berapa hadiahnya (segera menyusul hormat ke tiang bendera)
(Kemudian orang tua, Pengemis I dan II berdiri sambil hormat ke tiang bendera)

Pengemis I:
Akhh, berapa lama memangnya kita harus berdiri disini orang tua ?!
Akhhh demi uang aku akan bertahan disini wahai orang tua!!!

Pengemis II:
Iya betul betul betul . . . .

Pengemis I:
Stttt . . . .

Pengemis II:
Woyyy, sekalian penghuni pemukiman kumuh “Suka Mundur” kumpul, kita bakal dapet hadiah uang dari presiden susilo bambang yudhoyono, Kumpul...

Pengemis I:
Stttt jangan berisik ntar ga dapat hadiah loh. . . .

Wanita I :
(celingak celinguk kemudian ikut hormat ke tiang bendera)

Wanita II:
(kemudian ikut berdiri hormat ke tiang bendera)

Wanita III dan anaknya:
(ikut berdiri sambil menenangkan anak-anaknya)

ADEGAN III
(Instrument Music: Sirine Satpol PP disusul Buldozer)

Tiba – tiba muncul beberapa orang Satpol PP berniat menggusur lokasi pemukiman kumuh, disertai bolduzer2 yang gagah, siap meratakan Lokasi.

Pemuda:
Satpol, ada Satpol PP . . .  Lariiiiiiiiiiiiii . . . . . !!!!!

Satpol PP:
(tanpa ba ..bi.. bu.., langsung datang menggusur lokasi, mempora porandakan pemukiman yang telah lama berdiri, dan bahkan melebihi umur para Satpol PP itu sendiri)

Semua Penghuni pemukiman kumuh:
(berteriak ketakutan, berusaha menyelamatkan diri sendiri)
Tolonggggg hentikan pak . . . .!!!


(semua rumah rumah kumuh diratakan oleh bulldozer yang ganas,yang tersisa hanya sebuah tiang bendera, masih tegap berdiri)

Pengemis I:
Jangan!!!! Jangan pak, itu gubuk kami pak, itu tanah kami pak, itu satu satunya hak kami pak, jangan lagi kau hisap darah kami pak, apa salah kami, berapa banyak lagi air mata harus kami tumpahkan agar penderitaan ini segera usai, jangan pak jangan pak . . . . jangann!!!!

Wanita III:
Kami tau kami orang miskin pak dan kami memang tidak pernah menentang kalau kami miskin, kami memang tidak pernah protes karena memang kami selalu diam,   tapi kalau begini apakah kami harus diam, didepan mata kami tuan tuan berlaku seperti penjajah, didepan orang tua kami, tuan tuan ajarkan untuk tidak menghormati sesama, didepan anak anak kami, tuan tuan ajarkan kemaksiatan, kekerasan dan pembunuhan, lantas apakah kami harus bisa terima??? Walau kami miskin tapi kami punya harga diri?!!! Kami Protess!!!!

Satpol PP:
(berusaha menghancurkan tiang bendera dan hendak merobek bendera)

Orang Tua:
Berhenti, antek antek penjajah!!! Orang orang suruhan pejabat tak berpusat, apa lagi yang hendak kalian rampas dari negeri ini???!
Belum cukupkah kebahagiaan kami yang telah kalian sandera, belum cukupkah air mata negeri ini kalian rampok, kami memang tidak punya apa apa lagi, karena memang telah kalian rampok, yang tersisa hanya nurani kami dan bendera itu!!!!

Satpol PP:
Orang tua goblok!!! Kalian dengar baik baik yah, Surat Keputusan Gubernur Provinsi Bedebah: nomor 999/SK-Penipuan/VII/2010 tentang penggusuran pemukiman kumuh “Suka Mundur  menimbang bla bla bla, mengingat bla bla bla, memperhatikan bla bla bla, memutuskan bla bla bla menetapkan bahwa pemukiman ini harus digusur dalam rangka pembangunan daerah metropolitan dan pembuatan rumah rumah bordil, mengerti!!!
Jadi tidak ada alasan lagi, semua harus diratakan termasuk bendera tua ini!!!!

Orang Tua:
Itu pertiwimu, sejak kau belum lahir aku telah berada diatas tanah ini bersama merah putih itu, dia satu satunya saksi perjalanan panjang bangsa ini, dia satu satunya lambang kejujuran yang tinggal dinegeri bedebah ini, sudah 40 tahun aku mempertahankannya dengan darah, untuknya aku rela menantang maut!!!

Satpol PP:
Apa yang kau bicarakan orang tua gila,
(kemudian satpol PP berusaha merobek bendera merah putih)

Orang Tua:
Berhenti kau bedebah!!!!

(berdiri kemudian mengambil pisau yang berada di saku satpol PP dan menikamnya, matiii!!!!)

(Instrument Music: Tanah Pusaka)

Epilog Keriput yang menempel di pipi dan keningku memang menandakan aku sudah tak muda lagi, tapi jiwa dan darahku masih tetap merah kental seperti dulu, darah yang telah dikorbankan untuk merah putih, darah yang telah menjadi pengobar semangat ibu pertiwi, jadi tak seorangpun kubiarkan menyentuhnya, termasuk juga kau , Bedebah!!!!

T H E   E N D


naskah drama
























Lakon Pendek
A.Y.O. !
Karya Puntung CM Pudjadi
















(naskah ini pernah dimuat di Harian BERNAS Yogya tahun 90-an)


DRAMA DIMULAI SAAT SEORANG LAKI-LAKI TERKAPAR MENGERANG-ERANG DI ATAS PANGGUNG. NAMPAKNYA IA BARU SAJA DIANIAYA. MUKANYA BERSIMBAH DARAH YANG MELELEH DARI HIDUNGNYA.

SESEORANG MENDATANGI KEMUDIAN NAMPAK PANIK DAN BERTERIAK-TERIAK MEMINTA TOLONG. IA MERAIH SEBUAH KENTHONGAN ATAU ENTAH APA YANG KEMUDIAN IA BUNYIKAN DENGAN IRAMA GADUH. DATANG SEROMBONGAN ORANG YANG KEMUDIAN IKUT-IKUTAN PANIK DAN KACAU. LANTAS LEBIH KACAU LAGI KETIKA ORANG-ORANG YANG DATANG KEMUDIAN ITU IKUT-IKUTAN MEMUKUL-MUKUL BENDA APA SAJA ASAL MENIMBULKAN BUNYI.

KEMUDIAN DATANG SEORANG LAGI YANG AGAKNYA KEHERANAN MELIHAT SEKUMPULAN ORANG PANIK TANPA BERBUAT SESUATU KECUALI MEMUKUL-MUKUL. IA BERUSAHA MELERAI ORANG-ORANG, MENENANGKAN.

SESEORANG
Tenang dulu, saudara. Tenang dulu…. Ini ada apa? Mengapa tiba-tiba kalian menjadi panik dan gaduh tidak karuan? Ada apa?

SUARA KENTHONGAN DAN KEGADUHAN YANG LAIN BERHENTI.

SESEORANG
Coba dijelas kan dulu pada saya ada persoalan apa? Kok tiba-tiba saja menjadi begini.

YANG LAIN
Iya. ada apa?

YANG LAIN
Lho, ada apa?

SI ORANG YANG DATANG PERTAMA KALI TENTU SAJA PERLU MENJELASKAN.

ORANG YANG I
Ini begini. Orang yang terkapar ini adalah warga kita. Tadi saya melihat ia bertengkar dengan seorang prajurit pengawal raja. Lantas tiba-tiba plok! dan bak-buk-bak-buk! Kemudian ia terkapar.

YANG LAIN
Jadi orong ini dipukuli dengan semena-mena dan tanpa peri kemanusiaan oleh seorang prajurit pengawal raja?

ORANG I
Ya.

YANG LAIN
Tanpa perlawanan'?

ORANG I
Tanpa perlawanan.

YANG LAIN
Kamudian ditinggal pergi?

ORANG I
Kemudian ditinggal pergi

YANG LAIN
Biadab!

YANG LAIN
Tidak berperikemanusiaan!

YANG LAIN
Sewenang-wenang!

YANG LAIN
Main hakim sendiri!

YANG LAIN
Tidak bertanggung jawab!

YANG LAIN
Kurangajar!

LANTAS SUASANA KEMBALI MENJADI GADUH. SESEORANG TAMPIL KEMBALI MENJADI PENENANG.

SESEORANG
Tenang dulu saudara-saudara. Kita harus bisa berpikir dengan jernih! (Suasana menjadi tenang kembali). Nah, apakah yang akan kita lakuka, mari kita rembug secara baik-baik.

SESEORANG TAMPIL MENGOBARKAN SEMANGAT.

PEMBERI SEMANGAT
Saudara-saudara, kita telah melihat sebuah tindakan sewenang-wenang di depan mata kita. Kita telah melihat pelangaaran kemanusiaan. Kita melihat main hakim dan tindakan dari orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita akan biarkan terus kejadian seperti ini akan terjadi setiap saat?!

ORANG-ORANG
Tidaaaaakkk!

PEMBERI SEMANGAT
Ini bukan kejadian yang pertama kalinya, Saudara. Dan kejadian ini tidak akan berhenti apabila kita tidak bertindak. Apakah Saudara bersedia untuk menghentikan sebuah tindakan kesewenang-wenangan ini dan menjadi patriot, perintis tegaknya sebuah keadilan di bumi ini?

ORANG-ORANG
Bersediaaaa!!!

PEMBERI SEMANGAT
Lantas apakah kita harus menunggu sampal kita sendiri menjadi korban pembantaian oleh oknum kurang ajar dan tak bertanggungjawab itu?

ORANG-ORANG
Tidaaak!

YANG LAIN
Kita harus melakukan sesuatu.

YANG LAIN
Kita harus tegakkan keadilan di bumi pertiwi ini.

YANG LAIN
Ini bukan kejadian yang pertama. Dulu ada juga warga kita yang diperlakukan seperti ini

YANG LAIN
Dan kejadian ini akan terus terulang.

YANG LAIN
Dulu orang kampung sebelah malah sampai sekarat

YANG LAIN
Kita harus menghentikan kebiadaban tni

YANG LAIN
Ini tidak bisa kita biarkan.

YANG LAIN
Kita harus menghentikan kesewenang-wenangan ini. Kita harus melakukan sesuatu.

YANG LAIN
Ya! Kita harus melakukan sesuatu.

YANG LAIN
Tapi 'sesuatu' itu apa?

YANG LAIN
Ya entah pokoknya yang bisa menghentikan tindakan sewenang-wenang ini.

YANG LAIN
Kita harus meminta pertanggungjawaban oknum yang menganiaya warga kita ini.

YANG LAIN
Kita tuntut beramai-ramai.

YANG LAIN
Berbondong-bondong kita datangi komandan si oknum, kita laporkan tindakannya yang kurang ajar.

YANG LAIN
Kalau perlu kita datangt sambil membawa poster-poster dan slogan- slogan.

YANG LAIN
Sambil kita teriakkan yel-yel

YANG LAIN
Kalau perlu kita hubungi pers!

YANG LAIN
Mari kita lakukan !

YANG LAIN
Ayo !

YANG LAIN
Ayo !

YANG LAIN
Ayo ! Ayo !

SESEORANG
Sebentar! Kalau kita mau menghadap komandannya dan melaporkan tindakan oknum tadi, kita betul-betul harus tahu permasalahannya, kronologis peristiwanya, apakah Saudara mengerti dengan jelas urut-urutan kejadiannya?

SEMUANYA BENGONG.

YANG LAIN
Lho, tadi yangmelihat pertama siapa?

YANG LAIN
Iya, yang mengetahui urutan kejadiannya siapa?

YANG LAIN
Siapa?

YANG LAIN
Kalau tidak salah kamu toh yang melihat dan menjadi saksi kebiadaban oknum prajurit kurangajar tadi?

ORANG I
Saya cuma lihat sedikit

YANG LAIN
Itu sudah cukup. Untuk seterusnya kita sudah bisa membayangkan kejadiannya.

YANG LAIN
Tidak bisa dong, kita harus jelas dan pasti dengan kejadiannya agar laporan kita bisa dipertangungjawabkan.

YANG LAIN
Lha, tadi urutan kejadian yang Saudara lihat bagaimana?

ORANG I
Saya sedangberdiri di sana, kemudian saya mendengar ada pertengkaran antara korban ini dengan seorang oknum prajurit kerajaan. Kemudian plok dan lantas bak-buk-bak-buk. Kemudian orang ini terkapar di sini mengerang-erang.

YANG LAIN
Jadi bertengkar lantas plok-bak-buk-bak-buk?

ORANG 1
Lantas nyekakar dan mengerang-erang!

YANG LAIN
Biadab!

YANG LAIN
Kurang ajar!

YANG LAIN
Tidak berperikemanusiaan!

YANG LAIN
Barbar dan kurangajar!

PEMBERI SEMANGAT
Diam! Kalau kita sekedar mengumpat-umpat. persoalannya tidak bakalan selesai. Begini, kita harus melakukan sesuatu!

YANG LAIN
Lantas bagaimana tindakan kita?

PEMBERI SEMANGAT
Kita sudah mendengar ceritanya. Kita sudah melihat korbannya, maka sekarang saatnya kita bertindak!

YANG LAIN
Bertindak bagaimana?

PEMBERI SEMANGAT
Pokoknya bertindak!

YANG LAIN
Bertindak bagaimana?

PEMBERI SEMANGAT
Melakukan sesuatu !

SEMUA
Ayoooo!

SESEORANG
Sesuatu yang bagaimana?

PEMBERI SEMANGAT
Pokoknya menghentikan tindakan sewenang-wenang dan menegakkan keadilan di muka bumi!

SEMUA
Ayooo!

SESEORANG
Bagaimana caranya?

PEMBERI SEMANGAT
Kita datangi komandan pasukan si oknum. Kita beri laporan. Kita tuntut!

SEMUA
Ayooo!

SESEORANG
Lantas?

PEMBERI SEMANGAT
Kita tuntut si prajurit edan itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

SEMUA
Ayooo!

SESEORANG
Setelah itu?

PEMBERI SEMANGAT
Kita suruh si prajurit mengakui kesalahannya, agar ia menjadi jera, kemudian tidak melakukan perbuatan ini lagi dan keadilan kita tegakkan!

SEMUA
Ayooo!

SESEORANG
Apakah semudah itu?

PEMBERI SEMANGAT
Akan kita coba! Saudara-saudara, apakah saudara rela kesewenang-wenangan mendera kita tiap hari?

SEMUA
Tidaaaakk!

PEMBERI SEMANGAT
Apakah akan kita biarkan satu per satu warga kita akan mengalami kejadian seperti korban kali ini?

SEMUA
Tidaaakk!

PEMBERI SEMANGAT
Lantas kenapa Saudara tetap di sini. Apa yang kalian tunggu???

YANG LAIN
Ayo kita lakukan sekarang!

YANG LAIN
Sekarang!

YANG LAIN
Ayo!

YANG LAIN
Ayo!

YANG LAIN
Ayo! Ayo!

YANG LAIN
Ayo, Saudara saja nanti yang nienjadi juru bicara kita, cucuking ajurit kelompok ini.

SI PEMBERI SEMANGAT JUSTRU CELINGAK-CELINGUK.

YANG LAIN
Ayo! Kenapa jadi lembek!

PEMBERI SEMANGAT (Kendor)
Lho. untuk menjadi cucuking ajurit toh tidak mesti saya. . .

YANG LAIN
Lantas siapa?

YANG LAIN
Tidak ada yang lainnya.

YANG LAIN
Kita semua sudah melihat bagaimana pandainya Saudara berbicara dan berpidato membangkitkan semangat kami. Maka tak ada colon lain kecuali Saudara.

PEMBERI SEMANGAT
Jangan saya, bagaimana kalau saya tunjuk saja. Saudara...

YANG LAIN
Wah., jangan, saya… saya tak biasa berbicara, apalagi di depan umum dan melaporkan suatu kejadian penting.

PEMBERI SEMANGAT
Apa Saudara?

YANG LAIN
Wah, saya sok kecetit lidah kalau berbicara di depan pejabat Jangan jangan laporan saya malah terbalik.

PEMBERI SEMANGAT
Bagaimana kalau Saudara saja.

YANG LAIN
Enak saja menunjuk saya. Saya ini dari tadi kan cuma ikut-ikutan saja, masak ditunjuk jadi pimpinan.

PEMBERI SEMANGAT
Lantas siapa?

SEMUA
Ya Saudara!

PEMBERI SEMANGAT (Ciut nyalinya)
Jangan saya. . . Saya sebaiknya berada di belakang.

YANG LAIN
Saudara harus mau!
YANG LAIN
Ya. Harus!

PEMBERI SEMANGAT (ciut nyali namun tiba-tiba mendapat ilham)
Ah, jangan saya. Saya lebih tepat menolong korban ini saja. Merawatnya.
Lho, korban ini keadaannya sangat parah, butuh segera pertolongan. Nah, saya menyediakan diri untuk merawatnya...

PEMBERI SEMANGAT LANTAS MENCOBA MERAWAT KORBAN.

YANG LAIN
E. e, benar juga, merawat korban yang terluka seperti ini juga membutuhkan suatu pengorbanan tertentu. Sebaiknya saya bantu saudara itu...

YANG LAIN
Kemanusiaan memang harus ditegakkan. Kita tolong dia.

YANG LAIN
Betul sekali, mari saya bantu.

YANG LAIN
Mau diangkut ke mana? Mari saya bantu.

YANG LAIN
Yuk dibantu yuk...

SESEORANG
Lho, bagaimana dengan keadilan yang mau kita tegakkan

PEMBERI SEMANGAT
Silahkan diperjuangkan Mas, saya lebih cocok memperjuangkan kemanusiaan. Tugas kemanusian saya pikir juga tugas yang mulia.

Mereka beramai-ramai menggotong korban.


TINGGAL DI PANGGUNG CUMA SATU ORANG. SI ORANG I, SAKSI YANG MELIHAT KEJADIAN PERTAMA KALI. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN TERDENGAR SUARA PERTENGKARAN DARI SUDUT PANGGUNG. LANTAS TERDENGAR SUARA : PLOK! BAK-BUK-BAK-BUK!

LANTAS SESEORANG YANG BERLUMURAN DARAH TERHUYUNG MASUK PANGGUNG KEMUDIAN TERKAPAR JATUH. SI ORANG I SEGERA MEMBUNYIKAN KENTONGAN. RIBUT DAN SECARA PERLAHAN LAYAR DI TUTUP***